Untung Besar dari Kerajinan Tangan

Ditulis pada Selasa, 31 Mei 2016 | Kategori: Seputar Bisnis | Dilihat 3418 kali

Wastraloka
Terinspirasi Motif Batik Lawas
Ide Bisnis
Berawal dari orang tua yang kolektor batik antik, Eni Anjayani (35) jadi menaruh perhatian pada kain-kain tradisional. Akhir tahun 2010, ia mulai mengembangkan bisnis Wastraloka, produk kerajinan tangan dari bahan kain batik lawas. “Kain koleksi tersebut saya aplikasikan pada dompet, tas, dan pouch,” ujar Eni. Lantaran koleksi batik lawas makin terbatas dan sulit dicari, ia memperoleh ide untuk membuat repro dari motif kain batik lawas tersebut ke bahan lain. “Saya pun belajar melukis ke guru lukis yang ahli melukis di kaleng,” ujar Eni.
Ia kemudian mulai mengaplikasikan lukisan batik tersebut ke berbagai barang, mulai dari mug kaleng, kayu, nampan, hingga anglo (kompor tradisional). Modal awalnya sekitar lima juta rupiah untuk dibelikan bahan baku, seperti mug kaleng, kayu, dan cat akrilik.

Keunggulan Produk
Saat ini Wastraloka sudah mengembangkan 3 kategori produk, yaitu aplikasi wastra, kaleng lukis, dan dekorasi rumah dari kayu dengan desain vintage. Produknya pun beraneka ragam, mulai dari gantungan baju (kapstok), tempat tisu, hingga tempat benang berbentuk miniatur mesin jahit. Pada dasarnya, teknik lukis ini bisa diaplikasikan pada tiap benda, sehingga membuka ruang bagi Eni untuk berkreasi.
“Kami membidik konsumen penggemar kain batik lawas. Umumnya, jika sudah suka satu motif batik lawas, mereka akan tertarik pada produk yang memiliki motif sama. Termasuk mencari dekorasi untuk ruang tamu dan ruang makan yang senada dengan motif batik lawas favoritnya,” ungkap Eni.
Selain mengutamakan kualitas dan kerapian lukisan, keunggulan produk Wastraloka adalah kekhasan budaya Indonesia. “Saya ingin mengangkat budaya Indonesia dan mengenalkannya kepada orang luar. Untuk itu, semua produk Wastraloka kami sertai keterangan dalam bahasa Inggris,” jelas wanita yang mempekerjakan 3 penjahit, 4 pelukis, dan 2 freelancer ini.

Trik Marketing
Awalnya menggunakan media sosial seperti Facebook, Instagram, dan blog sebagai tempat promosi, kini Eni sedang mengembangkan website Wastraloka. Selain itu, dalam waktu dekat produk Wastraloka juga akan masuk galeri Chic Mart di Kemang, Jakarta.
Eni juga mengikutsertakan produknya dalam pameran-pameran, baik yang diadakan pemerintah maupun swasta. “Pameran seperti Inacraft, selain mendongkrak angka penjualan juga sebagai ajang pengenalan produk kami kepada masyarakat luas,” jelas Eni.
Saat ini omzet rata-rata per bulan sekitar Rp50 juta. “Belum untuk biaya operasional dan gaji karyawan,” jelas Eni.

Tantangan Bisnis
Bahan baku yang cenderung masih mahal, awalnya menjadi kendala baginya. Selain itu, karena harus membeli satuan di toko langganannya, hal ini juga berpengaruh ketika ia sedang kebanjiran pesanan, karena stoknya terbatas.
Kini, Eni menyiasatinya dengan bekerja sama langsung dengan perajin. Selain stoknya banyak, harganya pun jauh lebih murah. Ia juga sudah bisa memenuhi permintaan dari pembeli, termasuk pembeli tetap dari Australia. “Produk kami banyak digunakan untuk oleh-oleh, termasuk suvenir pertukaran pelajar dari pelajar luar negeri,” ujar Eni.
Hal yang masih menjadi kendala Eni adalah kesulitan mencari karyawan yang dapat melukis sesuai dengan desain batik lawas. “Kendala terbesar ada di pengembangan ide, karena tenaga kreatif yang terbatas yang bisa mewujudkan desain sesuai standar kami,” jelasnya.

By Femina Mei 2015